Ruang Imajinasi Skenario Remang Remang

skenario remang-remang

Judul: Skenario Remang Remang
Pengarang: Jessica Huwae
Editor: Mirna Yulistianti
Desain sampul: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia
Tebal: 179 hlm
Harga: Rp43.000

Buku kedua penulis muda Jessica Huwae hadir dengan sejumlah kejutan. Bahasa lebih matang dan ending yang sebagian besar tidak terduga.

TUJUH tahun absen agaknya kian mematangkan gaya penulisan Jessica. Gaya bertutur dan dialognya lebih matang dibandingkan dengan buku pertama soulmate.com yang masuk dalam genre metropop.

Buku keduanya Skenario Remang-Remang menyuguhkan 14 cerita pendek yang hampir seluruhnya meninggalkan kesan dark, gloomy.  Cerita yang digali lebih mendalam,  mengolah fase kepahitan hidup, pengkhianatan, patah hati, ramuan cinta dan politik, kesepian, kondisi sosial, cinta anak dan ayah, dan masih banyak lagi.

Jessica mengemas kepahitan dalam alur cerita yang mengalir dan bahasa cukup enak. Di beberapa cerita, penulis muda berdarah Ambon Medan ini memunculkan penjabaran dengan kalimat dan dialog  pendek  memikat dan langsung mengena. Namun, beberapa cerita lain menggunakan kalimat panjang dengan beberapa anak kalimat yang dipisahkan dengan garis.  Tidak mengurangi rasa, tapi membuat saya merindukan kalimat-kalimat pendek menohok khas Jessica.

Dari 14 cerita yang disuguhkan, dua cerita berjudul Mencintai Elisa dan Pelajaran Patah Hati mengingatkan saya pada Novel Raumanen karya Marianne Katoppo.  Kematian, penyesalan, dan kesepian dengan unsur kejutan di bagian ending. Dua kisah itu mengingatkan saya pada sosok Monang dan Raumanen.

Ruang Imajinasi

Beberapa cerita pendek  Jessica memberi ruang pada pembaca untuk menafsirkan sendiri kelanjutan dan akhir dari kisah yang dituturkan. Sepertinya Jessica sengaja memberi ruang imajinasi di buku keduanya ini.

Ke-14 cerita  juga memberi ruang bagi pembaca untuk memilih dan mendiskusikan cerita favorit. Maggie Tiojakin,  penulis kumpulan cerpen Home Coming, Balada Ching Ching, dan Novel Winter Dream mengumumkan cerita favoritnya. “Saya paling suka cerita Resep Rahasia Tante Meilan. Ada ramuan cinta, perjuangan, dan misteri,” katanya dalam acara peluncuran Skenario Remang Remang beberapa waktu lalu.

Beberapa undangan  yang hadir dalam acara tersebut  menyebutkan kisah favorit Mencintai Elisa, Nostalgia Rasa, dan lain-lain. Saya sendiri menyukai cerita Menjemput Bapak, Galila, dan Satu Hari dalam Hidup Aidan.

Menjemput Bapak berkisah tentang perselingkuhan seorang ayah dan kemarahan sang putri yang merasa dikhianati dan tidak bisa memahami kesabaran ibunya. Kemarahan itu mempengaruhi pemikiran dan hidupnya, mendesak mencari cara dan  jalan keluar untuk sebuah kata: maaf.

Galila juga bercerita tentang ketidak setiaan suami, namun dengan reaksi dan efek berbeda dari istri dan sang anak yang diakhiri dengan kalimat cantik tapi pahit dan menohok dari sang penulis: “Tidak banyak yang berubah  dalam hitungan satu tahun, sungguh, kecuali Galila menjadi anak pertama di kampungnya yang tidak memiliki nama belakang.”

Satu hari dalam Hidup Aidan berkisah tentang problem sosial yang belakangan kian sering diberitakan di media cetak dan nasional. Satu persoalan yang membuat khawatir para orangtua. Jessica menuliskan dengan alur yang baik, dengan bahasa yang mampu menciutkan hati.

Pada akhirnya, saya menunggu buku ketiga Jessica. Menunggu untuk melihat kejutan selanjutnya. Menunggu dengan percaya, bahwa penulis muda ini bisa menggali  lebih matang lagi, karakter dan kedalaman bahasa di buku selanjutnya.

Leave a comment

Filed under Kumpulan Cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s