Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan

 

 

Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan
Penulis: Ihsan Abdul Quddus
Pnerbit: Alvabet

Dalam biodatanya, sastrawan Mesir Ihsan Abdul Qudus disebutkan sebagai penulis yang memberi kontribusi besar untuk membawa perubahan dalam pandangan konvensional Mesir. Dia menganggap perempuan sebagai simbol pengorbanan dalam masyarakat Mesir, karena itu dia menjadikan perempuan sebagai tema sentral dalam banyak karya sastranya.

Dalam biodata itu disebutkan pula bahwa berbeda dengan karya sastranya, Ihsan adalah orang yang konservatif. Ia dikenal berkepribadian keras serta menjadi suami dan ayah yang ketat di rumah. Setelah menderita stroke, Ihsan meninggal Januari 1990.

Buat saya, novel ini menggambarkan bagaimana seorang perempuan mencoba mendobrak tradisi. Perjuangannya bukan hanya melawan tradisi, namun juga diri sendiri. Suad dengan segala kelebihan dan kekurangannya, merasa kesepian dan berjalan sendiri. Dia mencoba menyeimbangkan peran gender, mengejar ambisi, mengabaikan perasaan, dan terus mencoba menggunakan logika untuk menentang arus.

Meski dari alur cerita dan terjemahan terasa tidak mulus, namun membaca habis novel ini akan menggugah banyak perdebatan. Saya rasa, perdebatan, pemahaman sekaligus penolakan dari perjuangan kesetaraan genderlah yang juga melatar belakangi pemikiran pribadi Ihsan Abdul Qudus yang kemudian dituangkan dalam penulisan.

Membaca kisah Suad, kemungkinan Anda juga akan ditarik dalam pertentangan yang terkadang memunculkan rasa setuju dan terkadang juga penolakan. Bagi saya, ranah kesetaraan gender memang mempunyai rentang pemahaman  luas. Itu sebabnya, makna keseimbangan dan harmonisasi setiap individu bisa berbeda. Tapi justru karena itulah inti cerita novel ini jadi menggelitik. Pasti, suatu hari nanti, perdebatan, penerimaan, dan penolakan akan menjadi bagian dari proses.

Perjuangan Suad
Aku lupa bahwa aku perempuan menceritakan tentang pergulatan pemikiran perempuan antara karier dan perjuangan menembus pemikiran konservatif yang melabeli perbedaan perempuan dan lelaki. Suad sang tokoh utama yang berkarier sebagai dosen dan aktivis, tidak hanya berjuang melawan tradisi, tetapi juga diri sendiri.

Di tengah tradisi perjodohan, Suad bertekad mencari calon suami sendiri dengan dasar cinta yang sudah dia definikan berdasarkan logika ala Suad. Beruntung dia mendapat dukungan dari sang ayah. Namun, saat dia menikah dengan Abdul Hamid, keretakan mulai terjadi karena minimnya komunikasi akibat kesibukan masing-masing. Meski mereka punya satu anak dan saling menghormati, akhirnya perceraian tidak bisa dihidari.

Menyandang gelar janda menjadi beban tersendiri buat Suad. Pandangan masyarakat tentang janda dan perawan tua dirasakan sebagai beban. Di sini Suad bergelut dengan diri sendiri. “Janda diumpamakan sebagai terminal pemberhentian setiap kendraan…Seorang janda menemukan kebebasan dari problematika yang muncul dari mantan suami, tapi kemudian masuk dalam penjara isu yang dikembangkan oleh peradaban manusia. Kebebasan perempan yang bersuami dilindungi oleh suaminya….tetapi seorang janda, dia sendirilah yang harus mempertanggungjawabkan kebebasannya di dalam masyarakat…”

Maka, akhirnya Suad memutuskan mencari lagi suami. Suad menikahi Dokter Kamal dengan pertimbangan logika. Namun, sekali lagi perkawinannya kandas. Jika dengan Abdul Hamid karena minimnya waktu kebersamaan dan komunikasi, maka dengan dr Kamal lebih pada terganggunya eksistensi lelaki, karena saat itu karier politik Suad tengah bersinar. Dia berada di tengah lingkaran kekuasaan para elit.

Sebagai perempuan dengan karier yang meroket, Suad kesepian. Hubungannya dengan putri satu satunya bersama Abdul Hamid pun merenggang. Sang anak ingin menikah, dan menyatakan jika dia mau, perguruan tinggi bisa dijalani setelah menikah. “Bibiku menikah sebelum masuk perguruan tinggi dan aku menyaksikan dia seorang istri yang sukses dan bahagia….” Dan Suad merasa tertohok. Anaknya beranggapan dirinya bukan istri yang berhasil dan bahagia.

Akhirnya, di usia 55 tahun. Meski basis aktivitas Suad sudah kehilangan wibawa, namun namanya masih berkibar di organisasi perempuan. Disebutkan, Suad menyadari, sesungguhnya, gerakan perempuan bukanlah sebuah gerakan, namun fenomena. Dia dianggap sebagai fenomena aktivis perempuan yang kemudian dimanfaatkan pemerintah setiap kali ada kepentingan.

Di akhir novel tertulis, “Fenomena itu masih akan kembali.” Di sisi Suad kini ada Rifat Abbassy, sekertarisnya yang lebih muda lima tahun dan selalu setia membantu dan tidak keberatan berada di bawah bayang-bayang karier dan nama Suad.

Rifat Abbasy selalu bersamaku.
Aku tidak menginginkan lebih dari semua itu. Aku sudah terbiasa untuk lupa bahwa aku perempuan…

Leave a comment

Filed under Novel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s