Swordless Samurai

Swordless Samurai
(Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI)
Penulis: Kitami Masao
Editor: Tim Clark
Penerbit: Zahir Books (Devisi RedLini Publishing)

SWORDLESS Samurai merupakan salah satu buku yang saya suka. Banyak pelajaran berharga yang didapat dari buku ini. Mulai dari sejarah singkat Jepang di masa samurai berkuasa, hingga prinsip-prinsip kepemimpinan Toyotomi Hedeyoshi yang luar biasa — terlepas dari kemungkinan tafsir yang dilakukan oleh penulisnya mau pun Tim Clark yang sudah mengadaptasi buku karya Kitami Masao ke dalam Bahasa Inggris.

Dalam pengantarnya, Clark menyebutkan, tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Hideyoshi secara eksplisit menyebutkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang ada di buku ini. Prinsip-prinsip yang disebutkan diekstrapolasi dari kejadian yang tercatat dan dari pengetahuan atas karakter Hideyoshi melalui surat-surat dan dokumen lain.

Swordless Samurai ditulis dengan gaya penulisan orang pertama, ‘aku.’ Beberapa kutipan yang saya suka antara lain:
1. Rasa terimakasih adalah inti sebuah kepemimpinan.
2. Inti kepemimpinan juga terletak pada melayani, bukan dilayani.
3. Pemimpin harus bekerja keras dibandingkan dengan yang lain. Bertindaklah berani pada saat-saat krisis.
4. Jadilah seorang pemimpin, bukan atasan. Peliharalah asetmu yang paling berharga – jaringan personal.
5. Ubah kesialan menjadi keberuntungan. Untuk mendapat kepercayaan, jadilah yang pertama dalam memaafkan.
6. Kesetiaan bisa didapat, tapi tidak akan pernah bisa dibeli. Hagai komitmenmu, gunakan informasi untuk mengasah persepsimu.
7, Kerjasama tim adalah kunci keberhasilan. Carilah saran dari mereka yang berani tidak sependapat.
8. Rangkul orang yang kemampuannya melebihimu. Pekerjakan pemimpin, bukan sekadar pengikut. Waspada akan kesombongan.
9. Semakin tinggi kekuasaan, biasanya semakin tipis pula sikap rendah hati.
10. Hati-hati, jika tujuanmu sudah tercapai, engkau bisa melupakan alasan perjuanganmu semula. Waspadai kesombongan.

KISAH TOYOTOMI HIDEYOSHI

Hati-hati, jika tujuanmu sudah tercapai, engkau bisa melupakan alasan perjuanganmu semula. Waspadai kesombongan.

BAGAIMANA mungkin rakyat jelata tanpa pendidikan dengan fisik aneh bisa jadi pemimpin Jepang? Bagaimana mungkin rakyat jelata yang bermain pedang pun tidak becus bisa mempersatukan Jepang dan mengalahkan kemampuan shogun?

Toyotomi Hideyoshi sudah membuktikan apa yang dianggap tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Namanya kini abadi diperbincangkan di kalangan tua-muda, kaya-miskin, negarawan hingga rakyat jelata, khususnya di Negeri Matahari Terbit. Kisahnya terus diceritakan turun-temurun, mengilhami dan memotivasi banyak orang di dunia. Kegilaan perjalanan hidupnya bisa dikatakan paling banyak dibuat buku dan film dalam berbagai versi.

Bagi masyarakat Jepang, Hideyoshi jadi semacam icon keberhasilan menembus impian. Dari rakyat biasa dengan kelas sosial terbawah, menjadi pemimpin tertinggi (wakil kaisar). Kesuksesan dia raih saat sistem sosial di Jepang kental dengan napas feodalisme. Sebagai gambaran, Kaisar merupakan simbol status sosial tertinggi, diikuti kaum bangsawan, kemudian Shogun (pemimpin milier tertinggi), daimyo yang menguasai daerah, samurai, ronin (samurai tak bertuan) dan terakhir kelas terendah tempat Hideyoshi berasal, masyarakat pekerja (pedagang, petani, dll).

Toyotomi Hideyoshi lahir di zaman kekacauan Jepang (1537), saat perebutan wilayah kekuasaan antar-klan (antar daimyo) mencapai puncaknya. Dia lahir dengan kondisi supermiskin di Desa Nakamura, Provinsi Owari, dari seorang ayah bernama Yaemon, prajurit rendahan di ketentaraan Oda yang kemudian meninggal setelah mengalami cacat karena perang. Pada masa itu, menjadi janda dengan tanggungan anak tidaklah mudah. Akhirnya sang ibu menikah lagi.

Hideyoshi tumbuh menjadi anak bertubuh pendek, berwajah jelek bahkan disebut-sebut seperti monyet. Saat dewasa, tinggi badannya tidak lebih dr 150 cm dengan berat 50 kg. Jauh dari gambaran calon penguasa tertinggi Negeri Matahari Terbit.

Saat kecil, Hideyoshi yang lahir dengan nama Konoshita dikenal sebagai anak yang susah diatur, benci sekolah, dan sangat berminat pada berbagai hal yang berkaitan dengan samurai.
Untuk membentuk disiplin dan menjauhkan dari ayah tirinya yang sejak awal tidak pernah cocok, sang ibu menitipkan ke kuil Budha. Namun para biksu menyerah, tidak sanggup menangani, dan akhirnya memulangkan Hideyoshi.

Hideyoshi remaja mulai berpindah-pindah kerja. Mendapat kerja-dipecat, kerja-dipecat, sudah jadi semacam ritual rutin. Akhirnya sambil menangis, sang ibu memutuskan menitipkan anaknya bekerja pada seorang pedagang.

Di sinilah titik penting perubahan hidup Hideyoshi. Dia mulai menyadari bagaimana perjalanan hidup ibunya dipenuhi penderitaan, tanpa kehilangan kasih sayang pada anak-anaknya. Dia bertekad akan berjuang mencapai perubahan hidup untuk membahagiakan sang ibu. Inilah motivasi pertama yang mendorong Hideyoshi berjuang mewujudkan mimpinya, jadi pemimpin Jepang.

Dengan segala kekurangan yang dia miliki, dia tahu apa yang dia mau. Dia punya semangat, keberanian dan kecerdikan yang tidak dimiliki orang pada umumnya.

“Aku memiliki semangat melebihi orang lain. Aku ingin menjadi pemimpin, mengubah kekurangan fisik diriku menjadi keunggulan.” Itu tekadnya, sebelum akhirnya dia memulai petualangan menapaki dunia samurai hingga menjadi wakil kaisar dan terakhir menjadi Taiko (mantan wakil kaisar) dengan kekuasaan dan kharisma yang tetap diperhitungkan hingga akhir hayat.

Ubahlah Kelemahan jadi Keunggulan
Prinsip mengubah kelemahan menjadi kekuatan, merupakan mantra pertama untuk meraih kesuksesan. Fisiknya yang aneh sering menjadi bahan ejekan. Membuat orang lengah dan tidak memperhitungkan keberadaan dirinya. Namun, Hideyoshi punya sesuatu yang jarang dimiliki orang lain. Semangat, tekad, kemampuan menilai situasi, dan visi masa depan. Setelah menimbang dan menilai, dia tahu kepada siapa kesetiaannya akan diberikan. Dia juga memunyai kemampuan belajar dari pengalaman.

Awalnya, dia bekerja di klan Matsushita, menjadi pembawa sandal. Karier Hideyoshi menanjak cepat hingga mencapai posisi penjaga gudang. Kesuksesannya membuat iri, hingga akhirnya memunculkan fitnah yang membuat Hideyoshi, sekali lagi dipecat pada usia 18 tahun.

Meski shock, dia mulai belajar tentang intrik dan bagaimana cara menyiasati. Maka, langkah berikut, dia memutuskan untuk mengbdi pada klan Oda Nobunaga yang dia anggap paling memiliki masa depan untuk mempersatukan Jepang. Dia juga melihat calon junjungannya tak ragu melakukan inovasi dan mampu mempercayai dan menghargai bawahan berdasarkan kompetensi. Pertanyaannya: bagaimana cara Hideyoshi masuk ke dalam klan tersebut?

Ide gilanya muncul kembali. Hideyoshi mebayar orang, memberikan hampir seluruh hartanya hanya untuk mengetahui jadwal sang panglima muda Oda Nobunaga. Kemudian dengan nekad, dia menghadang derap kuda sang panglima muda.

Keberanian dan kecerdikannya berhasil mengantar dia bekerja di klan Nobunaga. Tugas pertama yang dia emban sama, yaitu membawa sandal sang panglima yang lebih sering memanggilnya monyet. Hideyoshi mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk tugas yang dianggap sepele oleh banyak orang.

Hanya itu? Tentu tidak. Hideyoshi belajar bahwa menangkap kesempatan dan bertindak berani pada saat kritis terbukti mampu membantu mendongkrak kariernya. Ide-idenya kadang membahayakan nyawanya sendiri, dan menjadi bahan terawaan banyak orang. Namun, Hideyoshi tidak peduli. Dia punya keyakinan. Selain itu, pemahamannya pada kehidupan kelas bawah dan juga dunia samurai serta kebangsawanan memberi banyak keuntungan.

Ada satu kisah tentang ide gila dan tindakan berani Hideyoshi yang paling sering dikisahkan. Dimulai saat Oda Nobunaga bersiap menghalangi serangan Klan Yoshimo dengan cara mengerahkan pekerja untuk memperbaiki benteng pertahanan.

Namun, meski sudah dikerjakan berminggu-minggu, pembangunan benteng tidak mengalami kemajuan. Saat itu,Hideyoshi tanpa sengaja ikut berkomentar tentang bahaya serangan Yoshimo. Komentarnya didengar dan dia mendapat tugas untuk memperbaiki benteng dengan lebih baik. Waktunya tiga hari sebelum Oda Nobunaga datang lagi memeriksa.
Terkaget-kahet, Hideyoshi mempertaruhkan nasibnya. Semalaman dia sulit tidur. Menjelang pagi, dia memanggil ratusan pekerja yang langsung menunjukkan sikap menentang dan meremehkan pria kecil bertampang buruk seperti monyet.

Di sinilah kehidupan sebagai rakyat jelata dan pengetahuannya tentang samurai dan kebangsawanan berperan. Setelah para pekerja berkumpul, Hideyoshi membagi dalam beberapa kelompok, menelurkan kata-kata motivasi, dan menjanjikan hadiah besar bagi kelompok yang paling rajin. Sambil berbicara, tangannya meraih uang tembaga dalam peti yang menimbulkan suara merdu bergemericing.

Kejadian fenomenal yang terus dikenang hingga generasi sekarang pun terjadi. Pada hari pertama Hideyoshi menjamu seluruh pekerjanya dengan makanan lezat dan sake berlimpah. Saat itu, tindakannya dianggap gila.

Nyatanya, sejarah mencatat, taktik gila itu justru mampu melancarkan karier Hideyoshi. Keesokan harinya dengan teriakan penuh semangat, para pekerja bekerja tak kenal lelah. Tiga hari kemudian, kemajuan perbaikan benteng di luar perkiraan Oda Nobunaga. Maka, sejak saat itu, nama Hideyoshi kian diperhitungkan. Dia mulai menapaki strategi perang dan perekrutan anggota.

Dalam hal ini Hideyoshi berprinsip: “Dedikasikan dirimu pada pimpinanmu. Lakukan tugasmu dengan sepenuh hati, dan bertindaklah berani pada saat-saat kritis.”Berikutnya: Jadilah seorang pemimpin, bukan atasan!”

Dia juga berprinsip, “Inti dari kepemimpinan adalah melayani bukan dilayani. Seorang pemimpin harus bisa berterimakasih. Pemimpin yang baik harus bisa memberi. Untuk mendapat kepercayaan beri kepercayaan. Hargai komitmenmu.”

Jadi, Apa yang ada dalam pikiranmu saat Hideyoshi mampu merekrut samurai dengan kemampuan luar biasa menjadi pengikut setianya? Banyak prinsip aneh Hideyoshi yang mampu menarik dan mendapatkan jutaan kesetiaan dari para samurai ternama.

Prinsip itu juga lah yang membuat dia memeroleh sekutu dari para klan (daimyo) yang akhirnya mengantarkan Jepang pada masa persatuan. Tercatat, pada 1598, anak petani dari kasta terendah di Jepang ini menerima sumpah setia dari seluruh daimyo.

Menjadi pemimpin yang mampu memaafkan, melayani, memberi dan selalu memegang komitmen, dilakukan sepanjang perjalanan kariernya mencapai puncak. Tindakan Hideyoshi yang murah hati dan adil saat melakukan penaklukan wilayah-wilayah, mengejutkan para samurai dan daimyo. Di zaman yang penuh kekerasan, Hideyoshi berhasil memenangkan hati para ksatria dan rakyat jelata.

Untuk mengenang perjalanan hidupnya yang luar biasa, saat ini di tanah kelahirannya, Nakamura, Nagoya, dibangun Hideyoshi dan Kiyomasa Memorial Museum. Hideyoshi dikenang sebagai sosok menyenangkan yang lebih mementingkan kecerdasan ketimbang kekuatan fisik. Julukannya, ialah Samurai tanpa Pedang.

Di akhir hayat, catatan sejarah menunjukkan, Hideyoshi terjebak dalam pusaran kesombongan kekuasaan dan melenceng dari tujuan perjuangan awal. Dia melakukan invasi ke Korea dan gagal. Dia juga mengambil ratusan selir.

Teman-temannya yang berani memberi pendapat berbeda, hampir semua telah gugur di medan perang. Sebagai pemimpin, Hideyoshi berada di puncak kekuasaan dan kesepian.

Apapun akhir kisah Hideyoshi, dia berhasil menggugah banyak orang untuk berani berpikir beda. Dari anak yang tak pernah mengecap pendidikan, kita juga bisa belajar tentang hidup dan kekuasaan. Di akhir hayat – setelah berabad-abad berlalu — Hideyoshi masih mampu meninggalkan pesan: “Waspadai kesombongan saat kekuasaan dan kesuksesan sudah di tanganmu.”

Leave a comment

Filed under Buku Jepang, Favorit, Inspirasi, Novel, Samurai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s