Raumanen

Judul    : Raumanen
Penulis  : Marianne Katoppo
Penerbit : Metafor Publishing

 

 

Jubahnya yang putih-api yang menyala putih
Matanya yang hitam-api yang menyala hitam
Suaranya menderu bagaikan guruh, “Raumanen! Namaku Isroil.”

Dan Jiwaku akhirnya mengerti, akhirnya menyerah. Masih sekilas kupandang kekasih yang bersujud di muka salib putih itu. Batu yang bertuliskan namaku: Raumanen-serta satu tanggal, sepuluh tahun dan satu hari silam.
(Hal 20-21)

Itu merupakan akhir dari Raumanen. Buku ini menceritakan kisah yang sangat sederhana. Tentang kehidupan muda-mudi, kehidupan mahasiswa di tahun 1960-an.
Tentang Monang, lelaki berdarah Batak yang kaya dan doyan pesta. Monang yang suka berganti pasangan. Juga tentang Raumanen, gadis manis berdarah Manado yang suka berorganisasi. Keduanya jatuh cinta. Keduanya mencicipi buah terlarang. Kemudian keduanya terpisah. Monang hidup bersama istri pilihan ibunya, Raumanen hidup dalam dunianya sendiri.

Kekuatan kata
Bagi saya, kekuatan buku ini terletak pada rangkaian kata-kata. Juga alur dan ending yang tidak disangka-sangka. Menuturkan tentang keceriaan dan kemuraman. Marianne merangkai dalam alur yang tidak membosankan dan mampu mengaduk-aduk.

Tanpa penjabaran panjang lebar, Marianne mampu menggambarkan keputusasaan Raumanen. Mampu menggambarkan penderitaan dan kegersangan hati Monang.
Misalnya, untuk menggambarkan Monang yang begitu takut menentang sang ibu, Marianne hanya perlu membuat dua kalimat lewat kacamata Raumanen:
Siapakah Monang itu sebetulnya? Seorang laki-laki yang tulus kucintai dan membalas cintaku…atau seorang anak yang tak pernah terpotong tali pusarnya? (Hal 94)

Atau simak juga jabaran penderitaan dan kegersangan hati Monang:
Pernah Raumanen mengatakan padaku bahwa neraka bukanlah suatu tempat ngeri penuh nyala api, melainkan suatu keadaan teramat dingin-kedinginan rohani yang mematikan jiwa, akibat terputusnya semua hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Kalau begitu, aku sudah lama hidup dalam neraka. (Hal 78)

Lewat novel ini, penulis menggunakan kata-kata indah dalam kisah sederhana untuk memprotes identitas kesukuan, menjabarkan benturan adat dan kekinian, menjabarkan tentang cinta dan keimanan, juga persoalan gender. Sederhana dan indah, tapi mengandung pesan cukup menohok, terutama saat diterbitkan 35 tahun lalu.

Raumanen lahir di tengah maraknya buku-buku karya penulis perempuan yang sudah terlebih dahulu melaju di tahun 1973-an. Di antaranya NH Dini, Marga T dan Ike Soepomo. Raumanen memberi warna lain di dunia pernovelan tanah air, lewat bahasa, alur dan juga ending cerita yang tidak berakhir bahagia.

Pada akhirnya, novel ini meraih tiga penghargaan sastra, yaitu Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta 1975, Hadiah Yayasan Buku Utama 1978, dan SEA Write Award 1982. Para pengamat buku memasukan Raumanen dalam kategori sastra pop.

Saat buku ini lahir,  saya masih kecil, tidak tahu menahu tentang kondisi gender, pertentangan budaya, suku, mau pun ras yang terjadi pada saat itu. Dua puluh tahun lalu, saya mendapatkan novel ini dalam bentuk fotokopi. Membaca, terpesona, dan ikut menangis.

Sampai sekarang, persoalan sederhana yang diangkat dalam buku ini tetap terasa kekiniannya. Kalimat yang digunakan Marianne Katopo pun masih terasa indahnya. Satu hal yang jarang saya dapat dari sebuah buku. Sebab, biasanya buku yang saya baca, kemudian dibaca lagi beberapa tahun kemudian, penangkapan dan kesan yang ditinggalkan berbeda. Tapi khusus Raumanen tidak. Perasaan saya tetap terhanyut, dan susunan kata serta urutan jalan cerita bab demi bab tetap memesona.

Latar Penulis
Nama lengkap Marianne Katoppo adalah Henrriette Marianne Katoppo. Lahir di Tomohon, Sulawesi Utara, 9 Juni 1943. Meninggalkan Indonesia untuk belajar teologi sejak 1964, antara lain di Kyoto, Tokyo, London dan Stockholm. Tulisan pertamanya diterbitkan dalam Bahasa Belanda di Koran Niewsgier.

Pada 1975 dia kembali ke Indonesia, tiga tahun kemudian berkelana ke banyak negara karena diminta memberi ceramah masalah perempuan dan teologi. Marianne menguasai banyak bahasa, di antaranya Inggris, Belanda, Prancis dan Norwegia.

Raumanen menurut dia, awalnya merupakan bagian dari novel pertamanya Dunia Tak Bermusim. Tapi kemudian dia pisahkan, dan bertahun-tahun kemudian baru bisa diselesaikan.
“Lalu pada suatu sore yang hening, tiba-tiba ilham menyambarku. Aku seakan-akan melihat Raumanen berdiri di taman sunyi, menunggu tamu-tamu yang tak kunjung datang, mengharapkan teman-teman yang sudah lama pergi. Aku juga menyaksikan Monang datang, mencarinya.”
Dari ilham itu, hanya dalam waktu singkat, lahirlah Raumanen.

Kini, Marianne katoppo tinggal di pinggiran kota Jakarta. dan masih aktif menerjemahkan berbagai kajian dan novel dalam Basaha  Prancis dan Norwegia. ***

Leave a comment

Filed under Favorit, Novel, Sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s