Dante Club

Judul     :  Dante Club

Penulis  : Matthew Pearl

Penerbit : Q Press

 

MEMBACA buku Dante Club butuh energi dan waktu. Alurnya agak lambat, dan terjemahannya kurang enak dibaca. Tapi isinya memang oke. Kita dibawa menelusuri perkembangan sastra di sebuah negara, plus watak manusia, dan kondisi sosial saat itu.

Suasana rasisme dihadirkan lewat Nicholas Rey, polisi mulatto (hasil kawin campur antara kulit putih dan hitam, bule dan negro, atau istilah apa pun). Berbagai peraturan dan perlakuan yang sangat rasis disinggung. Dan seperti biasa, saat membaca buku yang menggambarkan kebencian ras, bisa sangat menyentuh.

Dalam salah satu bab, ada kata-kata yang dilontarkan seorang penjahat bernama Peaslee yang rasanya sangat tepat menggambarkan keadaan dan juga tekanan psikologis yang dialami Rey.

“Orang-orang kulit hitam membencimu karena kulitmu yang agak putih. Dan orang-orang kulit putih membencimu karena kulitmu yang agak hitam.”

Kata-kata itu sebenarnya — dengan sedikit perubahan konteks dan prilaku — relevan untuk segala zaman. Namun, dalam kondisi tertentu pula, kehidupan ‘mulatto’ untuk segala campuran sudah jauh lebih baik. Bahkan di dunia model, mereka dianggap tambang mas. Tentu bagi mereka yang kebetulan dikaruniai dan diuntungkan paras yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Ketegangan cerita di Dante Club baru terasa mengalir setelah baca bukunya separuh lebih. Mathew Pearl membangun fiksi di tengah kisah nyata.

Mathew Pearl dalam bukunya mencoba mengungkapkan berbagai detail lewat tokoh-tokohnya. Cukup berhasil. Hanya saja mungkin terjemahan Indonesianya kurang pas dan kurang menggigit. Terlepas dari semua itu, Dante Club rasanya memang perlu dibaca. Bukan hanya fiksinya, tapi juga untuk menambah pengetahuan tentang sastra di negeri Paman Sam.

Yang menarik — suatu bentuk tren pemasaran di Amerika Serikat — buku ini dilengkapi dengan cuplikan hasil wawancara dengan Pearl. Juga panduan beberapa pertanyaan untuk bahan diskusi antara pembaca Dante Club.

Pertanyaan itu misalnya:
1. Diskusikan momen-momen penting ketika karya sastra menjadi tempat perlindungan sewaktu Anda mengalami masa-masa sulit, bingung atau kalut.
2. Apakah Anda menebak siapa pembunuhnya sebelum Mathew Pearl menyingkapnya?

Pertanyaan pertama menimbulkan api-api kecil dan liar dalam pikiran. Berloncatan, mencoba mencari garis penyambung. Karya sastra memang bisa menyembuhkan luka hati dan trauma seseorang, sekaligus memberi kekuatan. Bukan hanya karya sastra, tapi juga seni pada umumnya.

Coba rasakan, saat Anda sedih dan membaca sebuah karya sastra yang inspirasinya hampir sama dengan kehidupan yang Anda jalani. Coba rasakan, saat hati Anda disembuhkan oleh musik, lukisan, atau pun pertunjukkan teater.

Mengapa bisa demikian? Sebab menurut saya, sebuah karya sastra dan seni lahir dari sebuah perjalanan emosi panjang dan mengejutkan. Dari rasa sakit itu, lahirlah karya-karya maha dasyat. Jiwa dari karya itu punya kekuatan untuk menyembuhkan sekaligus menjerumuskan.

Menelusuri kehidupan beberapa penulis, perjalanan emosi yang mereka alami terkadang ikut membentuk ‘keanehan’ karakter dan prilaku mereka. Lowel — salah satu sastrawan Amerika yang diceritakan dalam Dante Club — dikenal dengan sikapnya yang eksentrik. Pramudya, dikenal punya sikap yang keras dan eksentrik pula. Saya rasa tidak bisa dipisahkan dengan pengalaman hidupnya yang jauh dari keadilan semasa pemerintahan orde baru. Dipenjara, disiksa, karyanya dibakar, dan bla…bla…

Di zaman sastra muda Indonesia, ada Ayu Utami dan Djenar. Dua perempuan yang berhasil melahirkan karya bagus, sekaligus diikuti juga dengan pandangan hidup mereka yang mengejutkan dan jadi bahan diskusi serta gosip masyarakat umum.

Di dunia musik pop ada Glen Fredly yang menjadi begitu lancar melahirkan lagu-lagu cinta — populer pula — setelah mengalami patah hati dengan kekasihnya yang berbeda agama.

Menengok jauh ke belakang, ada Bethoven yang melahirkan karya saat kesepian begitu menghujam. Juga rasa dongeng HC Anderson. Ada juga Virginia Woolf, penulis terkenal yang lebih senang hidup dalam kesendirian, dan akhirnya mati bunuh diri. Tindakan yang sama juga dilakukan vokalis grup musik Nirvana, saat dia tak bisa lagi menanggung rasa sepi.

Dengan segudang contoh, saya berkecenderungan mengatakan, sebuah karya sastra lahir dari sebuah pertarungan emosi luar biasa. Luka dan proses pencarian diri bisa membuat orang menjadi kreatif. Dan kemudian, karya-karyanya bisa menyentuh orang lain, menyembuhkan, tapi sekaligus juga menenggelamkan.

Kemudian saya berpikir, tidakkah banyak karya sastra lahir dari sebuah pribadi yang selalu berproses mencari sesuatu? Proses pencarian itu terkadang dilakukan dengan cara yang sangat tidak umum. Berpuluh tahun dan ratus kemudian, karya perenungan mereka terasa begitu dasyat, meski tetap dianggap sebagai pribadi aneh. ***

Leave a comment

Filed under Novel, Sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s