Blues Merbabu dan 65

Judul: Blues Merbabu dan 65

Penulis: Gitanyali

Penerbit: KPG

MENGULAS Novel 65 yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), tidak afdol jika tidak menyinggung dan membahas novel pertama karya Gitanyali berjudul Blues Merbabu (KPG). Dua novel ini saling terkait, saling tersambung menceritakan iramakehidupan Gitanyali, tokoh dalam novel yang juga menjadi nama samaran penulisnya,yang belakangan baru tersingkap identitas aslinya, Bre Redana, wartawan  senior di sebuah surat kabar nasional.

Blues Merbabu

Blues Merbabu merekam kehidupan anak mantan PKI. Tapi  jangan lantas berpikir terlalu serius dengan tema tersebut. Jangan pula berekspektasi membaca novel berat dengan muatan politik yang mengetengahkan intrik, ketidak adilan dan kawanannya.
Sebab, di Blues Merbabu,  semua ketidak adilan, ketidakmengertian, kesedihan dan teman-temannya dikemas dalam alur cerita popular dari kacamata pertumbuhan seorang anak hingga dewasa. Ringan, segar, tanpa kehilangan makna.

PKI digambarkan lewat kesibukan partai di rumahnya, lambang bulan sabit, pawai jalanan di kota kecil di kaki Gunung Merbabu, dan juga suasana mencekam saat terjadi penangkapan yang membingungkan. Di mata seorang anak, makna PKI adalah itu, plus perubahan suasana di rumah  menjelang pergi dan hilangnya satu-persatu kerabat, termasuk ayah dan ibunya.

Di novel  yang sejak semula sudah saya curigai sebagi kisah asli penulisnya, cap PKI yang memunculkan pandangan sinis masyarakat, pandangan simpati mau pun kasihan,tidak dieksplorasi berlebih. Hanya dicantumkan dalam satu alinea. Namun toh, permainan kata yang disodorkan mampu memberi pemahaman dan membangkitkan perasaan
tertentu pada pembaca.

Di alinea berikut — setelah menggambarkan tentang cap PKI v Gitanyali mengatakan tidak terlalu peduli. Mungkin karena dia menjalani kehidupan dengan kebebasan seperti air mengalir. Atau mungkin juga sengaja  membungkus dengan sikap seperti itu. Di bab lain, perasaan Gitanyali yang sesungguhnya terungkap, saat dia menyatakan kelegaannya ketika  hijrah ke Jakarta. Dia menuliskan dengan kalimat: menyongsong kebebasan baru karena tidak ada yang mengenal dia sebagai anak PKI.

Dari awal, Blues Merbabu sudah membuat saya jatuh cinta. Bahasa yang digunakan, alur cerita, detail yang disampaikan seperti musik blues, mendayu, mengalun,  menyentak. Novel ini jauh dari kecengengan, meski begitu banyak kisah roman yang terlibat di dalamnya. Detail yang disuguhkan juga  mampu memberi gambaran dan pengetahuan baru.

Kejujuran cerita dari tokoh utama Gitanyali bisa membuat orang tersentuh,terperangah, konyol,  dan kadang ikut mengumpat karena jengah. Boskop Rex, Li Hwa, keterikatan dengan kota kecil, spionasme kamar mandi, kisah rembulan dan Mbak Kadar, ditulis gamblang. Diceritakan dalam pandangan yang sangat laki-laki.

Novel 65

65 menjadi judul buku kedua setelah Blues Merbabu. Di novel kedua, kepahitan tentang cap PKI bisa lebih terasa. Tidak cengeng, tapi menghujam ke nurani ( hal 34-37).

Mengapa 65? Angka ini bagi Gitanyali punya makna tersendiri. (Tahun ini merupakan tahun longsor besaramembuat hari kami yang sekarang bukan  lagi hari kemarin.” (hal 34) Begitu kira-kira dia menggambarkan perubahan status dan lain sebagainya, ketika terjadi penghilangan orang yang dicurigai anggota PKI.

Angka 65 juga memiliki arti besar, karena tempat tinggal perempuan yang kemudian menjadi isterinya terletak di daerah Sukhumvit 65, Bangkok, Thailand. Apartemennya digambarkan masuk ke Soi 65 dengan nama JIVE 65. Maka, jadilah angka 65 melekat di keliaran pemikiran Gitanyali.

Apalagi, dua blok dari apartemen tersebut, terdapat bioskop dengan nama REX, sama dengan nama bioskop di kota kelahirannya yang menjadi pusat kehidupan Gitanyali, pusat kehidupan anak muda di kota kecil di kaki Gunung Merbabu.

Di Novel 65, petualangan asmara Gitanyali masih seramai di novel pertama. Bedanya, dari sekian banyak kencan, Gitanyali menemukan muara. Di depan kuil Wat That Thong, dia melamar perempuan yang disebutnya sebagai, “…my present, my future…”

Lagi-lagi, bulan di langit malam memiliki peran penting bagi lelaki pecinta kebebasan ini. Bulan di atas Bangkok jadi saksi ketika dia mengatakan, “Bagaimana kalau kita menikah.” Atau mungkin juga  jadi penanda dari perdamaian masa lalu dan masa kini sang tokoh.

65 masih mempesona, meski buat saya tidak semempesona novel pertama Blues Merbabu.

Leave a comment

Filed under Novel, Novel Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s